Jejak Portugis dan Kerajaan Larantuka di Kota Reinha Flores Timur
Menelusuri jejak Portugis dan sejarah Kerajaan Larantuka di Kota Reinha, Flores Timur. Dari perdagangan hingga tradisi Semana Santa yang masih hidup.

Inti Sari
- Larantuka adalah ibu kota Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, terletak di kaki Gunung Ile Mandiri.
- Luas wilayah Larantuka 75,91 km persegi dengan penduduk sekitar 45.515 jiwa pada tahun 2020.
- Larantuka dikenal sebagai Kota Reinha, pusat Kerajaan Larantuka yang bercorak Katolik.
- Tradisi Semana Santa, perayaan Pekan Suci Katolik, merupakan warisan Portugis yang masih dilestarikan hingga kini.
- Larantuka menjadi tujuan wisata rohani bagi umat Katolik, khususnya dari Nusa Tenggara Timur.
Kota Reinha di Kaki Ile Mandiri
Pagi di Larantuka dimulai dengan suara lonceng gereja dan aroma kopi dari warung-warung kecil di sepanjang Jalan Udayana. Kota kecil ini duduk di kaki Gunung Ile Mandiri, menghadap Selat Flores yang tenang. Sebagai ibu kota Kabupaten Flores Timur, Larantuka bukan sekadar pusat administrasi. Ia menyimpan lapisan sejarah yang jarang ditemukan di kota lain di Nusa Tenggara Timur.
Luas wilayah Larantuka sekitar 75,91 kilometer persegi. Penduduknya pada tahun 2020 tercatat sekitar 45.515 jiwa. Angka itu menempatkan Larantuka sebagai kota kecil, namun perannya besar dalam sejarah penyebaran Katolik di kawasan Flores dan Timor. Orang lokal menyebutnya Kota Reinha, merujuk pada tradisi kerajaan yang pernah berkuasa di sini.
Dari pelabuhan, kapal feri melayani rute ke Kupang dan pulau-pulau sekitar. Akses udara melalui Bandara Gewayantana di Tiwu, sekitar 10 menit dari pusat kota. Jalanan sempit berkelok, diapit rumah-rumah berdinding batu dan atap seng. Di beberapa sudut, terlihat bangunan tua bergaya Eropa dengan jendela tinggi dan dinding tebal, sisa masa kolonial.
Jejak Portugis dan Kerajaan Larantuka
Portugis tiba di kawasan Flores pada abad ke-16, membawa misi dagang dan agama. Larantuka menjadi salah satu pelabuhan penting dalam jaringan perdagangan cendana dan rempah. Kehadiran mereka tidak hanya meninggalkan jejak arsitektur, tetapi juga sistem kepercayaan yang mengakar.
Kerajaan Larantuka diperkirakan berdiri sekitar abad ke-17, dengan pengaruh Portugis yang kuat. Raja-raja Larantuka memeluk Katolik dan menjadikan agama itu bagian dari identitas kerajaan. Pusat pemerintahan berada di sekitar wilayah yang kini menjadi pusat kota. Meski kerajaan telah lama runtuh, gelar dan struktur adat masih dihormati. Beberapa keluarga keturunan raja masih tinggal di Larantuka dan berperan dalam upacara adat.
Salah satu peninggalan paling terasa adalah tradisi Semana Santa, perayaan Pekan Suci yang digelar setiap tahun menjelang Paskah. Prosesi ini melibatkan patung-patung suci yang diarak keliling kota pada malam Jumat Agung. Ribuan umat dari berbagai daerah datang untuk mengikuti. Tradisi ini diyakini diwarisi dari misionaris Portugis dan tetap dijaga oleh masyarakat setempat.
Gereja Katedral Reinha Rosari menjadi pusat kegiatan. Bangunan gereja tua dengan arsitektur kolonial menjadi saksi perjalanan panjang Katolik di Larantuka. Di sekitarnya, terdapat makam-makam kuno dan rumah adat yang masih berdiri.
Menjaga Warisan di Era Modern
Larantuka hari ini menghadapi tantangan yang sama dengan banyak kota kecil di Indonesia timur. Ekonomi bergantung pada sektor pertanian, perikanan, dan perdagangan. Hasil bumi seperti kelapa, kopi, dan cengkeh dari pedalaman Flores dijual di pasar lokal. Nelayan melaut setiap hari, membawa ikan segar ke pasar pagi.
Pariwisata rohani menjadi andalan. Setiap tahun, terutama saat Semana Santa, kota ini ramai dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara. Penginapan dan rumah makan kecil bermunculan, meski skalanya masih terbatas. Harga makanan di warung lokal relatif terjangkau. Transportasi dalam kota didominasi ojek dan angkutan umum.
Generasi muda Larantuka mulai terlibat dalam pelestarian tradisi. Mereka bergabung dalam kelompok paduan suara gereja, tim prosesi, dan komunitas sejarah. Namun, arus modernisasi dan migrasi ke kota besar menjadi tantangan. Beberapa bangunan tua mulai lapuk, menunggu perhatian.
Pemerintah daerah dan komunitas adat berupaya menjaga situs bersejarah. Meski tidak semua bangunan terawat, semangat untuk mempertahankan identitas Kota Reinha tetap kuat. Larantuka bukan sekadar nama di peta. Ia adalah kisah panjang pertemuan Portugis, kerajaan lokal, dan iman Katolik yang membentuk wajah Flores Timur.
Tanya Jawab Singkat
Apa itu Kota Reinha?
Kota Reinha adalah sebutan untuk Larantuka, merujuk pada tradisi kerajaan Katolik yang pernah berkuasa di wilayah ini.
Apa hubungan Portugis dengan Larantuka?
Portugis tiba pada abad ke-16 untuk berdagang dan menyebarkan agama Katolik. Pengaruh mereka membentuk Kerajaan Larantuka dan tradisi Semana Santa.
Apa itu Semana Santa?
Semana Santa adalah perayaan Pekan Suci Katolik yang digelar setiap tahun di Larantuka, dengan prosesi patung suci keliling kota pada Jumat Agung.
Bagaimana akses ke Larantuka?
Larantuka dapat dicapai melalui udara lewat Bandara Gewayantana atau laut dengan kapal feri dari Kupang dan pulau sekitar.